PEMIKIRAN RELIGIUS KARTINI YANG TERPINGGIRKAN
Oleh: Urip Triyono, S.S., M.M.Pd.*)
Ibu Pertiwi
(Ciptaan: Ismail Marzuki)
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
Pengantar
Selasa, 21 April 2026 besok segenap bangsa Indonesia akan memperingati sebuah momentum yang diharapkan menyadarkan diri dan bangsa ini dari carut-marutnya keberadaan berbangsa. Ya, peringatan Hari Kartini, peringatan yang diharapkan dapat memunculkan kembali jiwa nasionalisme, patriotism, dan humanisme dari sosok perempuan yang hebat, yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 –an. Pemikiran RA Kartini menjadi inspirator dan pemicu semangat berjuang bangsa terutama kaum perempuan untuk turut berperan aktif dalam menggelorakan semangat merebut dan mengisi kemerdekaan bangsa dari penjajahan dan penindasan bangsa lain dan bangsanya sendiri.
Pembelokan?
Satu catatan yang sangat penting dalam menelisik kisah perjuangan RA Kartini adalah aspek religious yang tampak terdistorsi (dihilangkan) oleh sebagian kalangan sejarawan, atau penuis sejarah. Hal ini terbukti dari minimnya catatan bahwa idealisme emansipasi wanita yang diusung oleh RA Kartini bersumber dari niat tulus mengangkat derajat kaum wanita melalui pendidikan. Kaum wanita harus didudukan sejajar dengan pria sesuai dengan kodrat dan hak-kewajibannya secara manusiawi. Pemikiran ini semakin berkobar ketika Kartini menimba ilmu agama kepada K.H. Sholeh Darat (Semarang) yang menginspirasi idealisme kesejajaran hak dan kewajiban kaum lelaki dan perempuan bersumber dari ajaran agama yang diyakininya yaitu agama Islam. Raden Ajeng Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) adalah Pahlawan Nasional Indonesia, pelopor emansipasi wanita pribumi yang gigih memperjuangkan hak pendidikan dan kesetaraan gender bagi perempuan Jawa. Lahir dari kalangan bangsawan Jepara, ia mendobrak tradisi pingitan melalui surat-surat pemikiran modern ke sahabat Belandanya, J.H. Abendanon dan istrinya yang kemudian dibukukan menjadi “Door Duisternis tot Licht” atau diterjemahkan “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Buku ini lahir tidak lepas dari gemblengan spiritual KH. Sholeh Darat kepada muridnya, RA Kartini. RA Kartini begitu intensnya belajar ilmu agama kepada KH Sholeh Darat seorang ulama yang mumpuni pada bidangnya yang mampu memberinya kemapanan berpikir dalam menatap masa depan diri dan kaumnya dengan gagah berani, bahwa kaum perempuan akan dapat sejajar dalam hak dan kewajibanya secara kodrati hanya dengan pendidikan dan pencerahan ilmu. Tanpa pendidikan yang mencerahkan tidak mungkin nasib kaum perempuan dapat berubah mentas dari kungkungan penjajahan, baik penjajahan Belanda, penjajahan para birokrat, dan yang lebih penting lagi adalah penjajahan mental yang sangat kuat melekat dalam benak pemikiran feodalistik bangsa sendiri, yaitu feodalistik Jawa yang mencengkeram sangat kuat pada saat itu.
Dalam catatan penulis, RA Kartini sendiri merupakan anak dari M.A. Ngasirah, berasal dari Telukawur, Jepara, dan merupakan anak dari pasangan Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama atau kiai. Ngasirah adalah istri pertama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, namun bukan istri utama karena ia bukan dari kalangan bangsawan tinggi. RA Kartini mewarisi karakter agamis dan kecerdasan spiritual dari ibu dan kakek-neneknya yang taat beragama. Maka, tidak mengherankan bila pola pikir dan kecerdasan RA Kartini meloncat mengatasi pemikiran para wanita pada masa tersebut yang kebanyakan mengalami kejumudan dan pasungan feodalistik Jawa. Pemikiran Kartini sangat mendalam dan mampu membaca tanda-tanda zaman, yang mungkin bagi diri dan sebagian besar kamumnya merasa hidup pada jurang kejahiliahan masa itu. Zaman yang tidak memberikan ruang bagi kaum wanita untuk beraktualisasi, memberikan potensi SDM untuk memajukan bangsanya.
Al Baqarah: 257
Sebuah ayat yang maknanya sangat dalam dan menggetarkan jiwa raga RA Kartini adalah Qur’an Surat ke-2 ayat 257 yang berbunyi: Allâhu waliyyulladzîna âmanû yukhrijuhum minadh-dhulumâti ilan-nûr, walladzîna kafarû auliyâ’uhumuth-thâghûtu yukhrijûnahum minan-nûri iladh-dhulumât, ulâ’ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn, artinya
“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang yang kufur, pelindung-pelindung mereka adalah tagut. Mereka (tagut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”
Dalam proses permenungan dan kontemplasi dari waktu ke waktu, RA Kartini semakin yakin bahwa kebodohan, keterbelakangan, dan kejumudan kaumnya hanya akan dapat diakhiri dengan pendidikan yang terarah, terprogram, dan mendasar. Al Qur’an memberikan arahan yang jelas dan terang benderang bahwa hanya dengan ilmu dan memohon petunjuk dan kekuasaan Allah SWT, kegelapan, keterbelakangan, dan kejumudan akan dapat disirnakan. Dan kegelapan (jiwa dan pikiran) hanya akan mampu disirnakan oleh cahaya iman dan illmu yang bersumber dari Tuhan yang Esa. Ayat ini menginspirasi RA Kartini sebagai pelopor kesetaraan hak dan kewajiban sebagaimana fitrah manusia pada zamannya untuk ditempatkan sebagaimana mestinya, sesuai dengan harkat, dan martabat manusia yang diciptakan Allah SWT secara sempurna dan diamanahi menjadi kholifah di muka bumi.
Pemikiran Islam yang secara terang benderang mengacu pada ajaran agama dalam catatan sejarah kurang mendapat perhatian, selain idealisme Qurani RA Kartini yang religius, warna anti Islam tampak lebih menonjol sehingga yang tampak adalah aspek sekuler yang ditandai oleh foto dan gambar yang tidak berkerudung atau berjilbab sebagai identitas keislaman. Bahkan idealitas kecerdasan religius yang bersumber pada Qur’an Surat Al Baqarah ayat 257 sangat minim ditampilkan, bahkan cenderung dihilangkan. Padahal ini ide yang sangat mendasar dalam pemikiran pencerahan RA Kartini, kembali pada fitrah manusia yang berkecenderungan memilih yang terang (cahaya iman) daripada memilih kegelapan (kekufuran dan kejahiliahan).
Sosok RA Kartini adalah sosok wanita, sosok ibu, dan sosok pejuang perempuan yang menginginkan seluruh kaum perempuan bangsa ini tampil pada garda terdepan dalam mengatasi kemelut bangsa, mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui pendidikan dan pencerdasan kaum perempuan. Bila kaum lelaki tidak mampu menyelesaikan masalah bangsa ini, maka kaum perempuan patut diberikan tempat untuk tampil ke depan.
Penutup
Nuansa religius RA Kartini sangat relevan diangkat kembali menjadi bahan diskusi, menggugah kembali ranah kebangsaan kita yang kini semakin meredup. Diskusi ini diharapkan mampu memunculkan sikap bijak harus bagaimana memandang nasib bangsa yang tidak kunjung usai didera masalah, baik yang bersifat internal maupun eksternal bangsa. Menyodorkan solusi bagi bumi pertiwi yang kini sedang bersusah hati melalui jeritan hati RA Kartini. Matur nuwun.
*) Penulis adalah Pendiri Yayasan Trimulya Widya Pratama Dukuhmaja, Kecamatan Songgom, Kab. Brebes Provinsi Jawa Tengah. Praktisi Pendidikan, Kepada Bidang Media, Digitalisasi, dan Pendidikan Nonformal Majelis Dikdasmen Pendidikan Nonformal PDM Brebes. Aktif menjadi pengamat pendidikan, sosial, dan budaya dan menulis buku Bunga Rampai Pendidikan dan Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal.
